fbpx

Apa Itu Postpartum Depression?

Postpartum depression (PPD) atau depresi postpartum adalah kondisi gangguan suasana hati yang dialami oleh Mama setelah melahirkan. Berbeda dengan baby blues yang bersifat sementara, PPD bisa berlangsung lebih lama dan memerlukan perhatian khusus. Kondisi ini dapat memengaruhi hubungan Mama dengan bayi, pasangan, bahkan keluarga.

Apa Penyebab Postpartum Depression?

Penyebab depresi postpartum bisa beragam dan melibatkan kombinasi faktor fisik, emosional, dan lingkungan:

  • Perubahan hormon: Setelah melahirkan, kadar hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh turun drastis, memengaruhi suasana hati.
  • Kurang tidur: Perawatan bayi baru lahir sering kali membuat Mama kekurangan waktu tidur, meningkatkan risiko stres dan depresi.
  • Tekanan sosial dan emosional: Ekspektasi menjadi “Mama sempurna” bisa memicu perasaan tidak mampu atau gagal.
  • Riwayat depresi: Mama dengan riwayat gangguan kecemasan atau depresi sebelumnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami PPD.

Apa Saja Gejala dan Ciri-cirinya?

Gejala depresi postpartum bervariasi antar individu, namun beberapa tanda umum yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Perasaan sedih atau kosong yang berlangsung lebih dari dua minggu
  • Kehilangan minat atau kesenangan dalam aktivitas sehari-hari
  • Kelelahan berlebih dan sulit tidur meskipun bayi tidur
  • Perasaan bersalah, tidak berharga, atau merasa gagal menjadi ibu
  • Kecemasan berlebih terhadap kesehatan bayi
  • Kesulitan membangun ikatan emosional dengan bayi
  • Pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi

Risiko Depresi Postpartum

Jika tidak ditangani dengan tepat, depresi postpartum dapat memengaruhi:

  • Hubungan ibu dan bayi: Gangguan ikatan emosional dapat berdampak pada perkembangan emosional dan sosial anak.
  • Kesehatan mental ibu: PPD dapat memicu gangguan mental jangka panjang seperti depresi kronis atau gangguan kecemasan.
  • Hubungan keluarga: Stres dan tekanan emosional dapat memperburuk hubungan dengan pasangan dan keluarga.

Bagaimana Diagnosisnya?

PPD dapat didiagnosis oleh tenaga kesehatan seperti dokter atau psikiater melalui wawancara klinis dan kuesioner khusus, seperti Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Penting bagi Mama untuk jujur dalam menjawab pertanyaan agar diagnosis lebih akurat.

Jenis-Jenis Depresi Postpartum

  1. Baby Blues: Gejala ringan seperti mudah menangis, mood swing, dan kecemasan dalam 1-2 minggu pertama setelah melahirkan.
  2. Postpartum Depression: Gejala yang lebih berat dan bertahan lebih dari dua minggu, memengaruhi aktivitas sehari-hari.
  3. Postpartum Psychosis: Kondisi langka namun serius yang melibatkan delusi, halusinasi, dan risiko membahayakan diri atau bayi.

Cara Mencegah Depresi Postpartum

  • Membangun sistem dukungan: Libatkan pasangan, keluarga, atau teman dekat untuk membantu perawatan bayi.
  • Jaga kesehatan fisik: Cukupi kebutuhan tidur, makan makanan bergizi, dan sempatkan berolahraga ringan.
  • Luangkan waktu untuk diri sendiri: Ambil waktu sejenak untuk beristirahat dan melakukan hal yang Mama nikmati.
  • Terbuka soal perasaan: Jangan ragu bercerita kepada orang terpercaya atau bergabung dengan komunitas ibu menyusui.

Baca Juga: Rambut Rontok Saat Menyusui? Simak Pembahasan Lengkap dan Cara Mengatasinya!

Bagaimana Pengobatannya?

  • Konseling: Terapi psikologis seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) efektif membantu Mama mengelola emosi.
  • Obat-obatan: Dalam beberapa kasus, dokter mungkin meresepkan antidepresan yang aman untuk Mama menyusui.
  • Dukungan sosial: Bergabung dengan kelompok pendukung Mama dapat membantu meringankan beban emosional.

Perbedaan Baby Blues dan Depresi Postpartum

AspekBaby BluesDepresi Postpartum
Durasi1-2 mingguLebih dari 2 minggu
Intensitas EmosiRingan hingga sedangSedang hingga berat
Perlu Perawatan MedisTidak selaluYa, membutuhkan perhatian medis

Kapan Harus ke Psikiater atau Dokter?

Mama perlu mencari bantuan medis jika:

  • Gejala berlangsung lebih dari dua minggu
  • Perasaan sedih atau cemas semakin parah
  • Sulit menjalani aktivitas sehari-hari
  • Muncul pikiran menyakiti diri sendiri atau bayi

Tips untuk Mama

  • Jangan merasa bersalah jika merasa kewalahan—ini normal.
  • Prioritaskan waktu untuk beristirahat saat bayi tidur.
  • Terima bantuan dari orang sekitar tanpa rasa bersalah.
  • Tetap lakukan menyusui langsung saat bersama bayi untuk memperkuat ikatan emosional dan mendukung produksi ASI.

Baca Juga: Perdarahan Postpartum: Penyebab, Perawatan, dan Risikonya

Mama, merasa lelah atau sedih setelah melahirkan adalah hal yang wajar. Namun, jika perasaan tersebut berlarut-larut dan mengganggu keseharian, jangan ragu untuk mencari bantuan. Mama tidak sendiri—ada dukungan di sekitar yang siap membantu. 


Sumber: