Donor ASI merupakan salah satu pilihan saat Mama yang menyusui memiliki stok ASI berlebih. Keberadaan donor ASI cukup membantu kedua belah pihak, baik yang memberi donor maupun yang menerima donor ASI. Mama yang memberi donor dapat menyumbangkan ASI-nya dan memberi ruang untuk stok yang baru. Sedangkan Mama yang menerima donor dapat merasa lega karena masih bisa memberikan ASI untuk bayinya di tengah beragam keterbatasannya.
Bagi Mama yang ingin mendonorkan ASI-nya, tidak ada salahnya untuk melakukan ini. Dalam menjalankan donor ASI, sebagaimana pada donor darah, diperlukan persyaratan yang menyertai Mama pendonor ASI dan Mama penerima ASI. Simak penjelasan berikut ini ya, Ma.
Donor ASI
Dilansir dari Sehatq, donor ASI adalah aktivitas memerah dan memberikan ASI dari Mama pendonor ASI kepada Mama penerima ASI sesuai dengan prosedur yang berlaku. Tidak semua Mama langsung mahir menyusui dan memberikan ASI untuk bayinya. Bahkan tidak semua bayi berkesempatan untuk disusui langsung oleh Mamanya. Bisa saja karena Mama meninggal dunia pasca melahirkan, atau kondisi kesehatan Mama yang belum dapat memberikan ASI secara langsung untuk bayinya. Pilihan donor ASI dapat menjadi alternatif solusi untuk memenuhi kebutuhan ASI untuk si kecil.
Syarat Donor ASI Bagi Pendonor dan Penerima
- Mama yang mendonorkan ASI memiliki kesehatan yang baik;
- Tidak menggunakan obat-obatan psikotropika atau merokok;
- Bersedia menjalani tes screening darah untuk memastikan kesehatan, dan mengidentifikasi penyakit tertentu;
- Memiliki cukup persediaan ASI untuk bayinya sendiri dan masih ada lebih;
- Usia ASI yang didonorkan sebaiknya tidak jauh dari bayi penerima donor. Misalnya, jika penerima donor ASI adalah bayi berusia 1 bulan, maka ASI yang didonorkan sebaiknya dari ASI saat bayi pendonor juga berusia 1 bulan. Atau, usia bayi pendonor tidak begitu jauh dari usia bayi penerima donor. Ini untuk bertujuan agar nutrisi yang diperlukan harapannya masih serupa.
Dilansir dari IDAI terdapat syarat umum sebagai calon pendonor ASI. Berikut ini adalah prosedur mendonorkan ASI secara umum:
- Calon pendonor ASI akan diperiksa kondisi kesehatannya dan dipastikan bebas dari penyakit;
- Calon pendonor akan mendapatkan pelatihan tentang bagaimana kebersihan, cara memerah, dan menyimpan ASI;
- Bayi dari calon pendonor ASI telah mendapatkan ASI yang cukup dan tidak kekurangan;
- ASI dari pendonor ASI akan dipasteurisasi pada suhu rendah untuk mematikan bakteri berbahaya;
- Setelah dipasteurisasi ASI kemudian disimpan di dalam lemari pendingin. Hal ini dilakukan untuk memastikan kandungan ASI tidak berubah.
Di Indonesia donor ASI sudah masuk ke dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2012. Berikut ini adalah persyaratan untuk pendonor dan penerima ASI sesuai dengan peraturan tersebut:
- Permintaan donor ASI didasarkan pada permintaan dari Ibu Kandung atau keluarga bayi;
- Penerima donor ASI, Ibu kandung dan keluarga bayi, mengetahui dengan jelas identitas, alamat, dan agama pendonor.
- Pendonor ASI dalam kondisi kesehatan yang baik dan tidak memiliki indikasi medis tertentu;
- ASI tidak diperjualbelikan;
- Pemberian donor harus memperhatikan norma agama dan aspek sosial budaya;
- Adanya jaminan mutu dan keamanan ASI yang didonorkan melalui proses kebersihan pemerahan ASI, cara memerah ASI yang tepat, dilakukan penyimpanan ASI sesuai dengan ketentuan, dan cara pemberian ASI pada penerima yang tepat.
Teknik Pasteurisasi Untuk Mematikan bakteri atau Virus Jahat
Donor ASI masih berpotensi menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak, baik untuk Mama kandung maupun untuk si kecil, tentang adanya risiko kesehatan yang mungkin timbul. ASI perah masih mungkin membawa penyakit atau bakteri, baik dikarenakan kurangnya kebersihan dalam penyimpanannya, maupun dari sisi kesehatan Mama yang memerah ASI. Beberapa penyakit yang paling dikhawatirkan ditularkan melalui ASI perah di antaranya adalah HIV/AIDS, Hepatitis B dan C, CMV (cytomegalovirus) dan HTLV (human T lymphotropic virus). Inilah mengapa selain dilakukan pemeriksaan lengkap oleh Mama pendonor, juga masih perlu dilakukan pasteurisasi.
Beberapa metode pemanasan terhadap ASI donor dapat diterapkan untuk meminimalisir risiko penyebaran berbagai penyakit tersebut adalah sebagai berikut:
- Pasteurisasi Holder. ASI akan dipanaskan dalam wadah kaca yang tertutup dan dilakukan pada suhu 62,5 derajat celcius selama 30 menit. Cara ini biasa dilakukan di Bank ASI. Metode ini membutuhkan alat pengukur suhu dan waktu yang akurat untuk melakukannya.
- Flash Heating. ASI sebanyak 50 ml ditaruh dalam botol kaca atau botol dengan ukuran sekitar 450 ml dan diletakan secara terbuka di dalam panci aluminium berukuran 1 L berisi 450 ml air. Kemudian panci dipanaskan di atas kompor sampai air mendidih. Setelah mendidih, matikan kompor dan kemudian botol kaca berisi ASI diangkat dan didiamkan sampai suhunya normal dan siap untuk diminum bayi.
- Pasteurisasi Pretoria. Mama dapat memanaskan air sebanyak 450 ml di panci alumunium berukuran 1 L sampai mendidih. Matikan kompor. Letakkan botol kaca terbuka yang berisi ASI sebanyak 50 ml di dalam panci selama 20 menit. Kemudian angkat dan diamkan sampai suhu ASI normal dan siap diminum bayi.
Bagaimana Cara Mendapatkan ASI yang Didonorkan?
Di negara maju terdapat sebuah seperti bank ASI, yang berfungsi untuk menjamin keberlangsungan donor ASI. Berbeda dengan negara Indonesia, keberlangsungan donor ASI masih dilakukan dengan mempertimbangkan aspek, diantaranya adalah agama, identitas, alamat, bahkan masih dilakukan oleh mandiri. Mama yang akan mendapat ASI akan memilih pendonor yang tepat secara mandiri.
Adapun hal yang harus diperhatikan saat memilih pendonor ASI adalah Mama memastikan donor ASI berasal dari unit donor ASI yang mempermudah akses pendonor dan penerima ASI dengan menjamin keamanan, etika dan kesehatan pendonor. Donor yang dilakukan juga harus sesuai prosedur atau protokol standar internasional.
Berikut ini adalah kriteria unit donor ASI yang direkomendasikan:
- Unit Donor ASI mutlak keberadaannya untuk mempermudah akses pendonor dan penerima, menjamin keamanan, etik dan terjaminnya kesehatan yang optimal;
- Sesuai prosedur dan protokol standar internasional dalam pengelolaan ASI donor;
- Memiliki Tim konsultan yang mencakup bidang ilmu terkait dan staf yang terlatih.
Tahapan Donor ASI
Dalam menjalankan aktivitas donor ASI, tahapan umum yang biasanya diterapkan terbagi menjadi 2 tahap, yaitu tahap skrining I dan tahap skrining II.
- Tahap Skrining I
- Usia bayi pendonor kurang dari 6 bulan;
- Mama memiliki kondisi tubuh yang sehat dan tidak mempunyai riwayat kontra indikasi dalam menyusui;
- ASI yang diproduksi dan dimiliki oleh Mama sudah memenuhi kebutuhan bayinya terlebih dahulu dan ketika memutuskan untuk donor ASI, kondisi stok ASI berlebih;
- Tidak melakukan transfusi darah atau transplantasi organ/jaringan dalam satu tahun terakhir;
- Tidak mengkonsumsi obat, termasuk insulin, hormon tiroid, dan produk yang bisa mempengaruhi bayi;
- Tidak memiliki riwayat menderita penyakit menular, seperti hepatitis, HIV, atau HTLV2;
- Tidak memiliki pasangan seksual yang berisiko terinfeksi penyakit, seperti HIV, HTLV2, hepatitis B/C (termasuk penderita hemofilia yang rutin menerima komponen darah), menggunakan obat ilegal, perokok, atau minum beralkohol.
- Tahapan Skrining II
- Mama akan menjalani skrining berikutnya yang meliputi tes pada penyakit seperti HIV, human T-lymphotropic virus (HTLV), sifilis, hepatitis B, hepatitis C, dan CMV (apabila akan diberikan pada bayi prematur);
- Apabila ada keraguan terhadap kondisi pendonor, maka tes dapat dilakukan setiap 3 bulan;
- Setelah melalui tahapan skrining selesai, ASI perlu dipastikan kembali bebas dari virus atau bakteri melalui pasteurisasi atau pemanasan.
Itulah penjelasan tentang donor ASI dan syarat-syarat yang perlu dipenuhi bila ingin mendonorkan ASi. Apakah Mama berencana mendonorkan ASI Mama?
Writer: (Fabian Roshan)
Editor: Mega Pratidina
Source:
Using Donor Breast Milk for Preemies (verywellfamily.com)
Sebelum Gunakan Donor ASI, Ini yang Harus Anda Pertimbangkan (sehatq.com)
Donor ASI: Membantu VS Bumerang Bagi Ibu Menyusui (aimi-asi.org)