fbpx
Onset Laktasi Image MamaBear

Mama, sudah pernah mendengar istilah onset laktasi? Onset laktasi ini adalah salah satu proses penting dalam perjalanan mengASIhi Mama, terutama pasca melahirkan. Apa itu onset laktasi? Apa peran dan manfaatnya dalam perjalanan menyusui? Yuk, temukan jawabannya di artikel MamaBear kali ini! 

Apa Itu Onset Laktasi? 

Onset Laktasi Image MamaBear

Onset laktasi adalah suatu proses ketika tubuh Mama mulai memproduksi dan mensekresi ASI sebagai respon terhadap kelahiran si Kecil. Masa onset laktasi inilah yang menjadi tanda awal perjalanan mengASIhi Mama.

Onset laktasi umumnya terjadi beberapa hari setelah persalinan, meskipun sebenarnya dapat berbeda-beda pada setiap Mama. 

Perubahan Hormon saat Onset Laktasi

Selama kehamilan, tubuh mengalami berbagai perubahan kadar dan kinerja hormon untuk menyiapkan proses menyusui dan produksi ASI pada payudara Mama.

Setelah melahirkan, hormon tersebut akan berubah, terutama pada kadar estrogen dan progesteron. Hormon estrogen berfungsi untuk menstimulasi sistem saluran ASI, sedangkan progesteron berperan untuk memengaruhi pertumbuhan dan ukuran kelenjar yang memproduksi ASI. 

Onset laktasi juga merangsang produksi hormon prolaktin dalam tubuh Mama. Prolaktin menstimulasi kelenjar mammary (mammary glands) pada payudara untuk memproduksi ASI. Dilansir dari Alodokter, hormon prolaktin berfungsi untuk merangsang produksi ASI dan mendukung pertumbuhan payudara.

Mulai masa kehamilan hingga awal menyusui, hormon prolaktin akan meningkat dan kembali normal setelah beberapa bulan menyusui. Pada wanita yang melahirkan tetapi tidak menyusui, hormon prolaktin akan turun kembali tidak lama setelah melahirkan.

Fase Pembentukan ASI

Onset Laktasi Image MamaBear

Permulaan laktasi merupakan fase penting bagi Mama dan si Kecil karena menyusui memberikan banyak manfaat, seperti nutrisi esensial, perlindungan kekebalan, ikatan, dan mendorong pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Tahap paling awal dalam pembentukan ASI dikenal sebagai kolostrum, cairan kental kekuningan yang kaya akan antibodi dan nutrisi penting. Kolostrum ini hanya diproduksi dalam jumlah sedikit dan keluar pada masa awal kelahiran.

Secara bertahap, kolostrum akan beralih ke ASI matang mulai beberapa hari pertama hingga beberapa minggu setelah melahirkan. Volume dan komposisi ASI menyesuaikan dengan kebutuhan bayi seiring pertumbuhannya.

Penyebab Onset Laktasi Terhambat

Onset Laktasi Image MamaBear

Onset laktasi bisa saja terhambat sehingga ASI masih belum keluar, bahkan hingga hari ketiga atau keempat setelah melahirkan. Terhambatnya onset laktasi ini bisa terjadi karena beberapa faktor penyebab, antara lain: 

1. Kelahiran pertama

Mama yang baru pertama kali melahirkan berpotensi mengalami onset laktasi yang terlambat. Hal ini wajar yaa, Mama… Pada Mama baru, ASI biasanya baru diproduksi pada  sekitar hari kelima pasca persalinan. Nanti, pada kehamilan selanjutnya, ASI akan keluar lebih cepat, Ma.

2. Persalinan yang traumatis

Ada kalanya proses persalinan bisa memberikan trauma bagi Mama karena sangat berat dan melelahkan. Proses persalinan yang sulit, penggunaan anestesi, dan banyaknya cairan infus yang disalurkan dalam tubuh Mama bisa juga menjadi alasan terlambatnya onset laktasi.

3. Persalinan caesar

Produksi ASI yang terlambat keluar juga bisa disebabkan karena adanya rasa stres, sakit, dan faktor emosional yang dirasakan setelah menjalani persalinan caesar. Mama dianjurkan untuk segera mulai menyusui secara rutin setelah persalinan.

Baca juga: Menyusui Setelah Operasi Caesar, Why Not?

4. Kelahiran bayi prematur

Sebenarnya, tubuh Mama bisa mulai memproduksi ASI pada akhir trimester kedua usia kehamilan atau masa-masa akhir kehamilan.

Meskipun begitu, jika Mama melahirkan lebih awal (prematur), Mama bisa berpotensi mengalami stres dan tidak bisa menyusui secara langsung pasca persalinan. Hal ini bisa membuat produksi ASI Mama terhambat.

Sebagai solusi, Mama dianjurkan untuk rajin pumping untuk merangsang produksi ASI dan mengumpulkannya untuk si Kecil.

Baca juga: 4 Tips Menyusui Bayi Prematur agar Tumbuh Normal

5. Masalah pelekatan menyusui

Salah satu hal paling penting yang perlu diperhatikan selama masa menyusui adalah memastikan pelekatan menyusui si Kecil sudah tepat. Proses pelekatan yang keliru dapat menghambat produksi ASI dari tubuh Mama.

Beberapa kondisi Mama dan bayi bisa menyebabkan proses pelekatan menyusui terganggu, misalnya, jika bayi mengalami tongue-tie, lip-tie, dan gangguan fungsi syaraf.

Selain itu, jika Mama memiliki puting payudara datar, puting terbenam (inverted), atau terlalu besar, juga bisa membuat permulaan menyusui Mama terasa lebih sulit. 

6. Mama mengalami diabetes

Produksi ASI berpotensi terhambat jika Mama memiliki diabetes. Mama dengan diabetes berisiko mengalami gangguan hormon, berisiko tinggi menjalani persalinan caesar dan kelahiran prematur, serta berpisah dengan bayi sementara waktu pasca persalinan.

Kondisi-kondisi inilah yang bisa memengaruhi terhambatnya produksi ASI pada Mama dengan diabetes. Maka dari itu, Mama dianjurkan untuk selalu menyusui dan memastikan kecukupan ASI si Kecil, terutama pada masa-masa awal kelahiran

7. Mama memiliki masalah hormonal

Mama yang kekurangan hormon tiroid dan memiliki gejala PCOS berpotensi mengalami onset laktasi yang terhambat. Untuk itu, Mama dianjurkan untuk menyusui sesuai kemauan bayi, setidaknya 2-3 jam sekali dan sambil terus memperhatikan kenaikan berat badannya.

8. Mama kelebihan berat badan (overweight)

Kelebihan berat badan, bahkan sebelum mulai mengandung, atau mengalami kenaikan berat badan berlebih selama kehamilan dapat berpengaruh terhadap produksi ASI pasca persalinan.

Mama dianjurkan untuk sering melakukan kontak skin to skin dengan bayi untuk merangsang produksi ASI Mama dan membuat bayi merasa familiar dengan kehadiran Mama. 

9. Mama mengalami retensi plasenta

Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan Indonesia, retensi plasenta merupakan kondisi saat plasenta masih berada dalam rahim dan belum ikut dilahirkan dalam jangka waktu 30 menit pasca persalinan.

Kondisi ini termasuk berbahaya karena berpotensi menyebabkan komplikasi, infeksi, dan kekurangan darah. Retensi plasenta juga bisa mencegah perubahan hormon yang dibutuhkan tubuh Mama untuk memulai proses produksi ASI sehingga onset laktasi dapat terhambat.

Saat dokter sudah berhasil mengeluarkan bagian plasenta dari dalam rahim Mama, hormon akan mulai berubah dan tubuh akan menghasilkan ASI.

10. Mama memiliki kista teka lutein

Saat Mama memiliki kista teka lutein dalam rahim, kadar hormon testosteron bisa menghambat produksi ASI. Kondisi ini umumnya akan berlangsung selama beberapa minggu pasca persalinan. Setelah kadar hormon menurun dan kondisi kembali pulih, produksi ASI akan mulai kembali berjalan normal. 

Kalau Mama mengalami kondisi di atas dan ASI masih belum juga keluar pada hari ketiga atau keempat pasca kelahiran, Mama dianjurkan untuk melakukan beberapa hal yang dapat menstimulasi keluarnya ASI, seperti kontak skin to skin, pijat oksitosin, pijat laktasi, rajin menyusui, rutin pumping, dan sebagainya.

Meskipun onset laktasi terhambat, bukan menjadi halangan bagi Mama untuk bisa terus menyusui si Kecil. Pastikan bayi mendapatkan ASI yang cukup ya, Ma…

Mama bisa juga mendapatkan tips ASI cepat keluar  pada artikel MamaBear 6 Langkah Praktis agar ASI Cepat Keluar setelah Melahirkan. Bahagia mengASIhi, Mama…

Dapatkan Informasi seputar ASI dan menyusui dengan mengunjungi Instagram @mamabearid, TikTok @mamabear_id, dan channel YouTube MamaBear Pelancar ASI. Sampai bertemu di artikel edukASI dan inspirASI lainnya!

Sources:

1. Retensi Placenta. URL: https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2143/retensi-placenta (diakses 25/09/2023)

2. Delayed Onset Milk Production. URL: https://www.verywellfamily.com/delayed-onset-milk-production-431848 (diakses 25/09/2023)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *