Plasenta merupakan organ yang berkembang di dalam rahim Mama selama kehamilan dan sangat penting untuk kesehatan kehamilan dan perkembangan janin. Selain itu, membantu menyediakan oksigen, nutrisi, dan menyaring kotoran janin selama kehamilan.
Plasenta ini terhubung ke bayi melalui tali pusar. Biasanya, plasenta menempel pada bagian atas atau samping rahim dan akan tetap disana sampai bayi lahir.
Namun, terdapat beberapa kasus dimana plasenta dapat berkembang di lokasi yang salah atau menempel terlalu dalam ke dinding rahim.
Itulah disebut dengan kelainan plasenta yang dapat menyebabkan pendarahan vagina pada trimester ketiga.
Kelainan plasenta biasanya didiagnosa menggunakan ultrasound. Tes ini tidak menimbulkan rasa sakit dan aman untuk Mama dan bayi.
Menurut Beth Israel Deaconess Medical Center, terdapat beberapa jenis kalianan plasenta yang disebut plasenta previa, plasenta akreta, plasenta inkreta atau plasenta perkreta.
Kelainan plasenta biasanya didiagnosis dengan USG pada trimester kedua (sekitar 18 sampai 20 minggu kehamilan). Simak terus artikel ini, Ma!
Jenis Kelainan Plasenta
1. Plasenta Previa
Medical News mengatakan bahwa kelainan plasenta previa ini biasanya terjadi ketika plasenta menutupi sebagian atau seluruh serviks.
Kondisi ini mempengaruhi 1 dari 200 wanita selama trimester ketiga. Namun, kondisi ini dapat sembuh seiring dengan perkembangan kehamilan. Jika plasenta previa tidak hilang, bayi akan dilahirkan melalui operasi caesar, biasanya sekitar 37 minggu.
Pertanda Mama mengalami plasenta previa adalah ketika terjadi pendarahan vagina berwarna merah terang (tanpa rasa sakit), untuk memastikannya Mama sebaiknya segera konsultasi bersama dokter maupun bidan.
Plasenta previa biasanya lebih sering terjadi pada wanita yang memasuki usia lanjut, perokok, pernah menjalani operasi caesar atau operasi rahim lainnya, dan sedang hamil kembar.
Untuk membatasi pendarahan selama kehamilan, Mama yang mengalami plasenta previa akan direkomendasikan untuk menghindari aktivitas berikut yang dapat menyebabkan kontraksi:
- berhubungan seks,
- menggunakan tampon (menstrual cup),
- melakukan aktivitas yang dapat meningkatkan risiko pendarahan, seperti berlari, jongkok, dan melompat.
2. Plasenta Akreta
Plasenta akreta ini terjadi ketika plasenta menempel terlalu dalam di dinding rahim tetapi tidak menembus otot rahim.
Komplikasi dapat terjadi lebih parah saat melahirkan. Pada kehamilan tanpa kelainan plasenta, plasenta biasanya terlepas dari dinding rahim segera setelah lahir.
Dengan plasenta akreta, sebagian atau seluruh plasenta tetap menempel, yang dapat menyebabkan banyak kehilangan darah setelah melahirkan.
Jika kondisi ini didiagnosis selama kehamilan, pasien kemungkinan akan memerlukan persalinan caesar dini diikuti dengan histerektomi (pengangkatan rahim).
Menurut Mayoclinic, plasenta akreta sering tidak menimbulkan tanda atau gejala selama kehamilan, meskipun perdarahan vagina selama trimester ketiga mungkin terjadi.
Dari ketiga kelainan plasenta, plasenta akreta adalah yang paling umum terjadi terhitung sekitar 75% dari semua kasus.
Berdasarkan Medical Center, penyebab spesifik dari plasenta akreta tidak diketahui, tetapi sering dikaitkan dengan plasenta previa dan persalinan sesar sebelumnya.
Persalinan caesar akan meningkatkan kemungkinan Mama mengalami plasenta akreta di masa depan. Semakin sering Mama melakukan caesar, maka akan semakin besar kemungkinan Mama mengalami plasenta akreta.
Kemudian, faktor lainnya adalah usia lanjut dan operasi rahim sebelumnya yang telah dilakukan Mama.
3. Plasenta Inkreta atau Plasenta Perkreta
Plasenta inkreta terjadi ketika plasenta tumbuh setidaknya di tengah dinding rahim dan menempel pada otot rahim.
Sedangkan, plasenta perkreta terjadi ketika plasenta tumbuh sepenuhnya melalui dinding rahim seperti terus tumbuh ke organ panggul terdekat, termasuk kandung kemih atau usus besar.
Plasenta perkreta adalah jenis kelainan plasenta yang paling jarang ditemukan, muncul pada sekitar 5% dari semua kasus kelainan plasenta.
Plasenta inkreta dan plasenta perkreta merupakan kelainan dengan tingkat terparah dibandingkan dengan kelainan plasenta sebelumnya.
Dalam kondisi ini, plasenta tidak sepenuhnya terpisah dari rahim setelah melahirkan. Hal ini dapat menyebabkan pendarahan yang berbahaya. Kondisi ini terjadi pada sekitar 1 dari 530 kelahiran setiap tahun.
Yang Perlu Mama Lakukan Ketika Mengalami Kelainan Plasenta
Kelainan plasenta biasanya dapat terdeteksi ketika Mama berkonsultasi dengan dokter kandungan. Dilansir menurut March of Dimes, ketika Mama mengalami kelainan plasenta biasanya dokter mungkin akan menyarankan agar Mama melahirkan sekitar 34 hingga 38 minggu kehamilan untuk membantu mencegah pendarahan yang berbahaya.
Kemudian, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk melakukan operasi caesar ketika persalinan dan diikuti dengan pengangkatan rahim atau uterus dengan metode pembedahan (histerektomi). Ini dapat membantu mencegah pendarahan agar tidak mengancam nyawa Mama.
Namun, jika Mama masih ingin memiliki kehamilan lain di masa depan, dokter mungkin menggunakan perawatan khusus sebelum operasi caesar untuk mencoba mengendalikan pendarahan dan menyelamatkan rahim Mama tanpa pengangkatan rahim.
Ada beberapa metode seperti jahitan khusus untuk mengikat pembuluh darah besar yang berdarah dan dapat ditempatkan di dalam rahim untuk memblokir pendarahan.
Sayangnya jika metode ini tidak menghentikan pendarahan, pengangkatan rahim atau histerektomi mau tidak mau harus dilakukan.
Cara Mengurangi Risiko Kelainan Plasenta
Salah satu cara untuk mengurangi risiko kelainan plasenta adalah jika memungkinkan usahakan untuk melahirkan si Kecil melalui persalinan pervaginam daripada operasi caesar.
Mengingat salah satu penyebab dari kelainan plasenta bisa disebabkan oleh Mama yang pernah menjalani operasi caesar, jadi sebaiknya Mama melakukan operasi caesar hanya jika ada masalah kesehatan dengan Mama atau bayi yang membuatnya diperlukan secara medis.
Namun, jika kehamilan Mama sehat, sebaiknya tetap melakukan persalinan secara normal. Sebaiknya hindari menjadwalkan operasi caesar karena alasan non-medis, seperti ingin melahirkan pada hari tertentu atau karena Mama tidak nyaman dan ingin melahirkan lebih awal dari tanggal jatuh tempo.
Apabila Mama merasakan gejala awal yang mengacu pada kelainan plasenta seperti sakit perut, nyeri punggung yang tidak tertahankan, pendarahan pada vagina, dan kontraksi rahim terus-menerus sebelum waktu bersalin, sebaiknya Mama segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan.
Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Mama dan calon bayi, ya! Tetap jaga kesehatan, Ma.
Dapatkan Informasi seputar ASI dan menyusui dengan mengunjungi Instagram @mamabearid, TikTok @mamabear_id, dan channel YouTube MamaBear Pelancar ASI. Sampai bertemu di artikel edukASI dan inspirASI lainnya!
Writer: Anisa Luana
Editor: Mega Pratidina, M. Najib Wafirur Rizqi
Sumber:
Types of Placental Disorders (bidmc.org)
What can go wrong with the placenta during pregnancy? (Medicalnewstoday.com)
5 Placenta Issues Every Woman Should Know (healthblog)
PLACENTAL ACCRETA, INCRETA AND PERCRETA (marchofdimes.org)