Berbeda dengan di awal kelahiran hingga kurang lebih 1 minggu usianya, bayi ASI jarang BAB seiring bertambahnya usia sampai kurang dari 6 bulan. Mama yang mengganti popok si kecil secara rutin tentunya juga memperhatikan perbedaan-perbedaan feses si kecil ini.
Tapi sebenarnya ini adalah hal yang wajar. Setelah feses pertamanya yang berwarna hijau kehitaman dan bertekstur lengket, bayi ASI cenderung memiliki feses yang kuning keemasan dan beraroma segar. Kemudian seiring bertambahnya usia si kecil, bayi ASI jarang BAB.

Normalkah Bila Bayi ASI Jarang BAB?
Bayi ASI jarang BAB tergolong normal dan tidak perlu dikhawatirkan, ya, Ma! BAB pertama yang keluar dari tubuh bayi yang baru lahir, berwarna hijau lengket atau disebut dengan mekonium. Mekonium mengandung semua cairan yang tertelan oleh bayi saat di dalam rahim. Cairan mekonium terdiri dari campuran air ketuban, lendir, empedu, dan sekresi dari kelenjar usus. Biasanya, mekonium akan keluar dari tubuh bayi beberapa jam hingga beberapa hari setelah bayi dilahirkan ke dunia.
Dilansir dari laman Parents, komposisi ASI yang dikonsumsi oleh bayi bisa dimanfaatkan seluruhnya untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, sehingga zat sisa yang tidak dimanfaatkan tubuh dikeluarkan melalui BAB dengan jumlah yang cenderung sedikit dan hampir tidak ada. Hal inilah yang menyebabkan bayi ASI jarang BAB.
Bayi yang baru lahir dan diberikan ASI eksklusif, biasanya akan BAB sebanyak 6-10 kali pada minggu pertama. Selanjutnya, saat berusia 3-6 minggu, bayi ASI jarang BAB tiap beberapa hari sekali. Berbeda dengan bayi ASI, bayi yang diberikan susu formula akan lebih sering BAB, yaitu sekitar 2-4 kali sehari pada usia 4 minggu. Selanjutnya, bayi akan BAB setiap 1-2 hari sekali.
Usia Memengaruhi Intensitas BAB Bayi
Usia bayi juga bisa memengaruhi kondisi dimana bayi ASI jarang BAB. Sistem pencernaan perlu dikosongkan agar makanan lainnya bisa masuk ke dalam tubuh. Pada bayi yang baru lahir, biasanya akan mengeluarkan sedikit kotoran setiap kali selesai menyusu karena belum memiliki refleks gastrokolik yang sempurna. Refleks gastrokolik terjadi ketika usus besar berkontraksi, sehingga menimbulkan keinginan untuk BAB.
Seiring berjalannya waktu, bayi ASI jarang BAB karena menyerap nutrisi yang ada pada ASI. Usus besar tidak akan dikosongkan dalam beberapa hari karena kotoran yang dihasilkan sangat sedikit. Intensitas bayi ASI jarang BAB yang normal yaitu satu hingga beberapa kali dalam seminggu atau bisa selalu BAB setelah setiap kali menyusu.
Indikator BAB Bayi
Kotoran bayi akan terlihat berbeda dengan kotoran orang dewasa karena bayi masih mengonsumsi ASI saja. Tapi, jika bayi sudah mengonsumsi makanan padat, kotorannya akan terlihat sama seperti orang dewasa. Kotoran dari bayi ASI, biasanya berwarna kuning mustard, sedangkan untuk kotoran bayi yang diberikan susu formula berwarna kuning kehijauan. Warna kotoran bayi bisa bervariasi antara warna kuning, hijau, atau coklat. Variasi warna tersebut termasuk normal.
Kotoran bayi yang berwarna hijau bisa saja merupakan pertanda jika asupan ASI tidak mencukupi kebutuhan tubuh si kecil. Pada kondisi tersebut, bayi akan rewel, jarang buang air besar, dan selalu merasa lapar. Mama disarankan untuk segera pergi ke dokter jika warna kotoran bayi adalah merah, hitam, atau putih. Hal ini bisa menandakan adanya perdarahan gastrointestinal, penyakit hati, atau malnutrisi yang terjadi pada bayi. Kotoran yang berwarna merah juga bisa berasal dari bayi yang menelan darah dari puting busui yang pecah-pecah.
Kotoran bayi yang normal memiliki tekstur lembut dan licin. Kotoran bertekstur keras seperti kelereng dan bayi yang terlihat tidak nyaman, bisa menandakan terjadinya sembelit atau konstipasi. Sedangkan, kotoran yang terlalu lunak, encer, atau berair bisa menandakan terjadinya diare pada bayi. Selain itu, bayi ASI yang jarang BAB akan berbeda dengan bayi diare yang memiliki intensitas BAB tinggi. Biasanya, diare pada bayi disebabkan oleh kurangnya asupan cairan dalam tubuh, sehingga Mama perlu lebih sering menyusui agar bayi tetap terhidrasi.
Secara umum, kotoran bayi yang diberi ASI tidak memiliki bau sama sekali, justru beraroma segar. Sedangkan, untuk bayi yang diberikan susu formula akan memiliki kotoran yang sedikit berbau. Ini juga terjadi pada bayi yang sudah mengonsumsi makanan padat seperti makanan yang mengandung protein. Bau, warna, dan tekstur kotoran bisa bervariasi sepanjang hari, tergantung apa yang dikonsumsi oleh bayi. Jika kotoran bayi beraroma sangat menusuk, Mama disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter.
Nah, itulah penjelasan tentang mengapa bayi ASI jarang BAB yang perlu Mama pahami. Sekarang jadi less worry, ya, Mam karena sudah lebih tahu alasan bayi ASI jarang BAB. Jika si kecil mengalami gejala yang tidak biasa pada BAB, Mama disarankan untuk berkonsultasi ke dokter agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat. Dapatkan informasi seputar ASI dan menyusui lainnya di website Mamabear.co.id, social media Instagram @mamabearid, Tiktok @mamabear_id, dan Youtube Channel MamaBear Pelancar ASI.
Penulis: Luqmanul Hakim
Editor: Mega Pratidina
Source:
The Baby Poop Guide: What’s Normal, What’s Not (parents.com)
Breastfed Baby Poop: How It’s Different and What’s Normal (parents.com)
Baby Poop 101: a Comprehensive Guide to Newborn and Infant Poop (thebump.com)
How Long Can a Baby Go Without Pooping? (parents.com)